All pictures are the property and copyright of their respective owner(s).

Showing posts with label psikologi sosial. Show all posts
Showing posts with label psikologi sosial. Show all posts

Sunday, November 23, 2014

Alosentris

Apa itu alosentris? Kata alosentris atau allocentric - allocentrism, tidak terlalu familiar bagi masyarakat umum, bahkan bagi kalangan psikologi kata ini masih terdengar asing. Lalu apa itu alosentris?

Sebenarnya maksud dari istilah alosentris dapat dipahami dengan mudah. Hanya saja yang membuat kata alosentris masih terdengar asing adalah karena sumbernya yang masih langka. Dimana istilah ini baru digunakan setelah Triandis H.C mencetuskannya. Triandis mencentuskan istilah alosentris untuk mempermudah meneliti individu alosentris baik pada lingkungan individualis maupun kolektif.



Alosentris merupakan kontruk pada level individu dari kolektivisme. Dimana individu tersebut lebih memusatkan perhatian dan tindakan kepada oranglain daripada diri sendiri. Dengan adanya konstruk pada level individu ini, sifat kolektif yang melekat pada individu (alosentris) dimungkinkan diteliti baik pada masyarakat kolektif ataupun pada masyarakat individualis.



Souce :
Handbook of culturah halth psychology by Shahe S. Kazarian, David R. Evans.

All pictures are the property and copyright of their respective owner(s).
Sources Images : here


Tuesday, May 28, 2013

Fungsi Kelompok: Peran, Status, Norma-norma, dan Kohesivitas


Fungsi Kelompok: Peran, Status, Norma-norma, dan Kohesivitas

Peran
Peran membantu mengklarifikasikan tanggung jawab dan kewajiban orang-orang yang menjadi bagian kelompok. Selain itu, peran memberikan sebuah cara penting untuk membentuk perilaku dan pikiran para anggotanya.

Tetapi, peran juga memiliki sisi negatif. Anggota kelompok kadang-kadang mengalami konflik peran – stres yang berakar pada kenyataan bahwa dua peran (atau lebih) yang dimainkannya tidak kompatibel. Sebuah contoh yang sangat umum untuk itu adalah tekanan yang dialami oleh ibu dan bapak baru, yang tibatiba saja harus menghadapi kewajiban yang terkait dengan sebuah peran– yaitu menjadi orangtua – yang tidak konsisten dengan kewajiban yang terkait dengan peran mahasiswa atau pegawai.


Status: Prestise dari Berbagai Peran
Anda tahu bahwa status – posisi atau jenjang sosial seseorang di dalam sebuah kelompok – dianggap sebagai masalah serius oleh banyak orang. Di dalam kasus apapun, status adalah salah satu faktor penting di dalam fungsi kelompok. Peran atau posisi yang berbeda di kelompok berhubungan dengan level status yang berbeda, dan orang seringkali sangat sensitif terhadap fakta ini.

Norma: Aturan Main.
Aturan di dalam kelompok yang menunjukkan bagaimana anggotanya seharusnya (atau seharusnya tidak) berperilaku Norma memberitahukan tentang cara untuk berperilaku (norma preskriptif) atau untuk tidak berperilaku (norma proskriptif) di dalam berbagai situasi.

Kohesivitas: Lem Perekat.
Semua kekuatan (faktor) yang menyebabkan Anggota kelompok tetap bertahan di dalam kelompok. Cota dan para koleganya (1995) menyatakan bahwa kohesivitas melibatkan dua dimensi primer: tugas-sosial dan individual-kelompok. Dimensi tugas-sosia  terkait dengan sejauh mana individu tertarik pada tujuan kelompok (tugas) atau hubungan sosial yang terdapat di dalamnya (sosial). Dimensi individualkelompok berhubungan dengan sejauh mana para anggota committed terhadap kelompoknya atau terhadap anggota-anggota lainnya. Sebagai contoh, kohesivitas mungkin berhubungan dengan status (pangkat). Orang-orang yang berpangkat lebih tinggi memiliki kohesivitas lebih tinggi dibanding mereka yang berpangkat lebih rendah. Di dalam tim olahraga, peran individual masing-masing pemain mungkin lebih penting dalam menentukan kohesivitas.

Faktor-faktor tambahan yang mempengaruhi kohesivitas antara lain: (1) besarnya usaha yang dibutuhkan untuk dapat menjadi anggota kelompok – semakin besar biaya yang dibutuhkan untuk bergabung, semakin tinggi ketertarikan orang terhadapnya (lihat diskusi kami tentang teori disonansi di Bab 4); (2) ancaman dari luar atau persaingan keras (Sherif dan kawan-kawan, 1961); dan (3) ukuran – kelompok-kelompok kecil cenderung lebih kohesif dibanding kelompok-kelompok besar.


Baca artikel lain seputar materi kuliah Psikologi di halaman Materi Kuliah Psikologi

 

Pembentukan Kelompok: Mengapa Orang Bergabung dengan Kelompok ?


Pembentukan Kelompok: Mengapa Orang Bergabung dengan Kelompok?

 
Para ahli psikologi sosial yang telah mengkaji isu ini sampai pada kesimpulan bahwa orang-orang bergabung dengan berbagai kelompok sosial karena beberapa alasan yang berbeda (Paulus, 198). Pertama, kelompok membantu kita dalam memuaskan beberapa kebutuhan psikologik maupun kebutuhan sosial penting kita, seperti kebutuhan untuk memberi dan menerima perhatian, kebutuhan untuk memberi dan menerima afeksi, atau kebutuhan untuk mendapatkan rasa memiliki. Kebutuhan-kebutuhan ini memang subtil, tetapi sangat riil.

Kedua, kelompok membantu kita mencapai tujuan-tujuan yang tidak dapat kita capai secara individual. Dengan bekerja bersama orang lain, kita seringkali dapat menyelesaikan pekerjaan yang tidak dapat kita lakukan sendirian. Ketiga, keanggotaan di kelompok seringkali memberikan pengetahuan dan informasi yang tidak akan kita dapat jika kita tidak menjadi anggotanya. Keempat, kelompok membantu memenuhi kebutuhan kita akan rasa aman. Di banyak kasus, keamanan terletak di dalam jumlah. Dengan menjadi bagian berbagai kelompok, kita memperoleh perlindungan dari musuh-musuh yang sama.

Terakhir, keanggotaan kelompok juga membantu pembentukan identitas sosial yang positif – yang menjadi bagian konsep-diri kita (lihat Bab 5). Semakin banyak jumlah kelompok restriktif dan prestisius yang mengakui keberadaan seseorang, semakin terangkat pula konsep-dirinya.

Baca artikel lain seputar materi kuliah Psikologi di halaman Materi Kuliah Psikologi
 


Social Loafing Adalah

sorry, this page has moved to

Pengertian Social Loafing

Social Loafing : membiarkan orang lain mengerjakan tugas.

Social loafing adalah berkurangnya motivasi dan usaha saat individu bekerja secara kolektif didalam kelompok jika dibandingkan dengan ketika ia bekerja secara individual atau bekerja sebagai koaktor independen. (Karau dan Williams, 1993).

team work
All pictures are the property & copyright of their respective owner(s)

Karau dan Williams (1993), social loafing memiliki implikasipenting, karena banyak tugas krusial hanya dapat diselesaikan dalam kelompok – seperti misalnya, tim olahraga, kepanitiaan, tim juri di pengadilan (AS), satuansatuan tugas pemerintah, dan lain-lain (misalnya, Russell, 1993).

Model usaha kolektif : Penjelasan mengenai social loafing yang mengungkapkan bahwa hubungan yang dipersepsikan antara usaha individu dan hasil lebih lemah ketika mereka bekerja bersama orang lain dalam sebuah kelompok, hal ini kemudian menghasilkan kecenderungan munculnya social loafing.

CEM memperkirakan bahwa social loafing akan paling lemah ketika individu bekerja dalam kelompok kecil daripada dalam kelompok besar, ketika mereka bekerja pada tugas yang secara instrinsik menarik atau penting bagi mereka, ketika mereka bekerja dengan orang-orang yang dihargai (teman-teman, rekan tim dll), ketika mereka memperkirakan teman sekerja mereka bekerja secara buruk ,serta ketika mereka datang dari budaya yang menekankan pada usaha dan hasil individual daripada kelompok (namun terdapat pengecualian di beberapa budaya Asia, yang menekankan pada kebaikan-kebaikan kolektif dan bukan hasil individual, social loafing tidak tampak terjadi.

Social loafing dapat dikurangi  dengan beberapa cara : dengan membuat hasil akhir teridentifikasi secara individual dengan meningkatkan komitmen pada tugas dan meningkatkan perasaan bahwa tugas tersebut penting serta dengan meyakinkan bahwa kontribusi dari setiap anggota pada tugas adalah unik.