All pictures are the property and copyright of their respective owner(s).

Tuesday, May 28, 2013

Fungsi Kelompok: Peran, Status, Norma-norma, dan Kohesivitas


Fungsi Kelompok: Peran, Status, Norma-norma, dan Kohesivitas

Peran
Peran membantu mengklarifikasikan tanggung jawab dan kewajiban orang-orang yang menjadi bagian kelompok. Selain itu, peran memberikan sebuah cara penting untuk membentuk perilaku dan pikiran para anggotanya.

Tetapi, peran juga memiliki sisi negatif. Anggota kelompok kadang-kadang mengalami konflik peran – stres yang berakar pada kenyataan bahwa dua peran (atau lebih) yang dimainkannya tidak kompatibel. Sebuah contoh yang sangat umum untuk itu adalah tekanan yang dialami oleh ibu dan bapak baru, yang tibatiba saja harus menghadapi kewajiban yang terkait dengan sebuah peran– yaitu menjadi orangtua – yang tidak konsisten dengan kewajiban yang terkait dengan peran mahasiswa atau pegawai.


Status: Prestise dari Berbagai Peran
Anda tahu bahwa status – posisi atau jenjang sosial seseorang di dalam sebuah kelompok – dianggap sebagai masalah serius oleh banyak orang. Di dalam kasus apapun, status adalah salah satu faktor penting di dalam fungsi kelompok. Peran atau posisi yang berbeda di kelompok berhubungan dengan level status yang berbeda, dan orang seringkali sangat sensitif terhadap fakta ini.

Norma: Aturan Main.
Aturan di dalam kelompok yang menunjukkan bagaimana anggotanya seharusnya (atau seharusnya tidak) berperilaku Norma memberitahukan tentang cara untuk berperilaku (norma preskriptif) atau untuk tidak berperilaku (norma proskriptif) di dalam berbagai situasi.

Kohesivitas: Lem Perekat.
Semua kekuatan (faktor) yang menyebabkan Anggota kelompok tetap bertahan di dalam kelompok. Cota dan para koleganya (1995) menyatakan bahwa kohesivitas melibatkan dua dimensi primer: tugas-sosial dan individual-kelompok. Dimensi tugas-sosia  terkait dengan sejauh mana individu tertarik pada tujuan kelompok (tugas) atau hubungan sosial yang terdapat di dalamnya (sosial). Dimensi individualkelompok berhubungan dengan sejauh mana para anggota committed terhadap kelompoknya atau terhadap anggota-anggota lainnya. Sebagai contoh, kohesivitas mungkin berhubungan dengan status (pangkat). Orang-orang yang berpangkat lebih tinggi memiliki kohesivitas lebih tinggi dibanding mereka yang berpangkat lebih rendah. Di dalam tim olahraga, peran individual masing-masing pemain mungkin lebih penting dalam menentukan kohesivitas.

Faktor-faktor tambahan yang mempengaruhi kohesivitas antara lain: (1) besarnya usaha yang dibutuhkan untuk dapat menjadi anggota kelompok – semakin besar biaya yang dibutuhkan untuk bergabung, semakin tinggi ketertarikan orang terhadapnya (lihat diskusi kami tentang teori disonansi di Bab 4); (2) ancaman dari luar atau persaingan keras (Sherif dan kawan-kawan, 1961); dan (3) ukuran – kelompok-kelompok kecil cenderung lebih kohesif dibanding kelompok-kelompok besar.


Baca artikel lain seputar materi kuliah Psikologi di halaman Materi Kuliah Psikologi