All pictures are the property and copyright of their respective owner(s).

Tuesday, May 28, 2013

Intelegensi dan IQ



Orang seringkali menyamakan arti intelegensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti inteligensi didefinisikan berbeda-beda oleh para ahli. Salah satu contohnya, pengertian inteligensi menurut Alfred Binet (1857-1911) & Theodore Simon, inteligensi terdiri dari tiga komponen, yaitu kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau tindakan, kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan itu telah dilaksanakan, dan kemampuan untuk mengritik diri sendiri (autocriticism).
All pictures are the property & copyright of their respective owner(s). Source here.
Lalu, apa itu IQ? IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan. Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (mental age) dengan umur kronologik (chronological age).
Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1. skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mengalami kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.


Baca artikel lain seputar materi kuliah Psikologi di halaman Materi Kuliah Psikologi


Pengertian Intelegensi Menurut Ahli


All pictures are the property&copyright of their respective owner(s)
http://www.savagechickens.com/images/chickenworktest72.jpg
Inteligensi Menurut Alfred Binet (1857-1911) & Theodore Simon, inteligensi terdiri dari tiga komponen, yaitu kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau tindakan, kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan itu telah dilaksanakan, dan kemampuan untuk mengritik diri sendiri (autocriticism). 
David Wechsler, intelegensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa intelegensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, intelegensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu. 
Lewis Madison Terman pada tahun 1916 mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan seseorang untuk berpikir secara abstrak.
H. H. Goddard pada tahun 1946 mendefinisikan inteligensi sebagai tingkat kemampuan pengalaman seseorang untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dan untuk mengantisipasi masalah-masalah yang akan datang.
V.A.C. Henmon mengatakan bahwa inteligensi terdiri atas dua faktor, yaitu kemampuan untuk memperoleh pengetahuan dan pengetahuan yang telah diperoleh.
Baldwin pada tahun 1901 mendefinisikan inteligensi sebagai daya atau kemampuan untuk memahami.
Edward Lee Thorndike (1874-1949) pada tahun 1913 mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan dalam memberikan respon yang baik dari pandangan kebenaran atau fakta.
George D. Stoddard pada tahun 1941 mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk memahami masalah-masalah yang bercirikan mengandung kesukaran, kompleks, abstrak, ekonomis, diarahkan pada suatu tujuan, mempunyai nilai sosial, dan berasal dari sumbernya.
Walters dan Gardber pada tahun 1986 mendefinisikan inteligensi sebagai suatu kemampuan atau serangkaian kemampuan-kemampuan yang memungkinkan individu memecahkan masalah, atau produk sebagai konsekuensi eksistensi suatu budaya tertentu.
Flynn pada tahun 1987 mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk berpikir secara abstrak dan kesiapan untuk belajar adari pengalaman.

Baca artikel lain seputar materi kuliah Psikologi di halaman Materi Kuliah Psikologi

 

Sejarah Tes Intelegensi




All pictures are the property&copyright of their respective owner(s)
http://www.savagechickens.com/images/chickenworktest72.jpg


Pada awalnya telah dipraktekan oleh negara cina sejak sebelum dinasti Han, yang dilakukan oleh jenderal cina, untuk menguji rakyat sipil yang ingin menjadi legislatif berdasarkan pengetahuan menulis klasik, persoalan administratif dan manajerial.
Kemudian dilanjutkan sampai pada masa dinasti Han (200 SM- 200 M), namun seleksi ini tidak lagi untuk legislatif saja, tetapi mulai merambah pada bidang militer, perpajakan, pertanian, dan geografi. Meskipun diawali dengan sedikit mencontoh pada seleksi militer perancis dan Inggris. Sistem ujian telah disusun dan berisi aktivitas yang berbeda, seperti tinggal dalam sehari semalam dalam kabin untuk menulis artikel atau puisi, hanya 1 % sampai dengan 7 % yang diijinkan ikut ambil bagian pada ujian tahap kedua yang berakhir dalam tiga hari tiga malam. Menurut Gregory (1992), seleksi ini keras namun dapat memilih orang yang mewakili karakter orang Cina yang kompleks. Tugas-tugas militer yang berat cukup dapat dilakukan dengan baik oleh para pegawai yang diterima dalam seleksi fisik dan psikologi yang intensif 
Tokoh-tokoh yang berperan antara lain adalah Wundt. Beliau merupakan psikolog pertama yang menggunakan laboratorium dengan penelitiannya mengukur kecepatan berpikir. Wundt mengembangkan sebuah alat untuk menilai perbedaan dalam kecepatan berpikir. Sedangkan Cattel (1890) menemukan tes mental pertama kali. Yang memfokuskan pada tidak dapatnya membedakan antara energi mental dan energi jasmani. Meskipun Pada dasarnya tes mental temuan Cattel ini hampir sama dengan temuan Galton.
Tokoh yang tak kalah pentingnya adalah Alfred Binet. Selain kontribusi nyata pribadi beliau dengan menciptakan tes intelegensi, beliau juga bekerja sama dengan Simon (1904) untuk membuat instrumen pengukur intelegensi dengan skala pengukuran level umum pada soal- soal mengenai kehidupan sehari- hari. Perkembangan selanjutnya dua tokoh ini mengembangkan penggunaan tes intelegensi dengan tiga puluh items berfungsi mengidentifikasikan kemampuan sekolah anak. Tahun 1912, Stres membagi mental age dengan cronological age sehingga muncul konsep IQ.
Tokoh selanjutnya yang cukup berperan adalah Spearman dan Persun, dengan menemukan perhitungan korelasi statistik. Perkembangan selanjutnya dibuatlah suatu standar internasional yang dibuat di Amerika Serikat berjudul “Standards for Psychological and Educational Test” yang digunakan sampai sekarang. Kini tes psikologi semakin mudah, praktis, dan matematis dengan berbagai macam variasinya namun tanpa meninggalkan pedoman klasiknya. Psikodiagnostik adalah sejarah utama dari tes psikologi atau yang juga disebut psikometri.

Baca artikel lain seputar materi kuliah Psikologi di halaman Materi Kuliah Psikologi

Kode Etik


Kode Etik
 

Ruang gerak seorang profesional diatur melalui etika profesi yang distandarkan dalam bentuk kode etik profesi.
Kode etik merupakan sebuah sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik, dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi profesional.
Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah, perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Tujuan kode etik agar profesional memberikan jasa sebaik-baiknya kepada pemakai atau nasabahnya. Adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak profesional.

KODE ETIK PSIKOLOGI INDONESIA.


Kode Etik Psikologi Indonesia terdiri dari tiga bagian, yaitu Mukadimah, Pasal Kode Etik, dan Penutup.

Selengkapnya isi KODE ETIK PSIKOLOGI INDONESIA.


Baca artikel lain seputar materi kuliah Psikologi di halaman Materi Kuliah Psikologi


Pasal 76 Kode Etik Psikologi

Pasal 76
Pemberian Konseling Psikologi/ Psikoterapi bagi yang Menjalani Konseling Psikologi/Psikoterapi sebelumnya

Psikolog saat memutuskan untuk menawarkan atau memberikan layanan kepada
orang yang akan menjalani konseling psikologi/psikoterapi yang sudah pernah mendapatkan konseling psikologi/psikoterapi dari sejawat psikolog lain,
harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

a) Psikolog tersebut perlu berhati-hati dalam mempertimbangkan keberpihakan kepada kesejahteraan orang yang menjalani proses konseling/psikoterapi serta menghindari potensi konflik dengan psikolog yang sebelumnya telah memberikan layanan yang sama.

b) Psikolog perlu mendiskusikan isu perawatan atau konseling psikologi /psikoterapi dan kesejahteraan orang yang menjalani konseling psikologi/psikoterapi dengan pihak lain yang mewakili orang yang menjalani konseling psikologi/psikoterapi tersebut dalam rangka meminimalkan risiko kebingungan dan konflik.

c) Jika memungkinkan, psikolog mengkomunikasikan kepada psikolog pemberi layanan praktik sebelumnya kemudian melanjutkan secara hati-hati serta peka pada isu-isu terapeutik.



Pemahaman pasal 76 KODE ETIK PSIKOLOGI INDONESIA

Pasal 76 menjelaskan bahwa sebagai seorang psikolog harus mementingkan kebutuhkan klien. Dalam menawarkan atau menerima pasien yang telah menjalani konseling, harus memperhatikan kesejahteraan klien, konselor menawarkan jasanya berdasar pada kompetensi konselor yang dinilai mampu menangani klien dan tujuannya untuk membantu klien. Kepentingan pribadi konselor tidak boleh dijadikan alasan melakukan konseling pada klien, seperti kepentingan konselor untuk mendapatkan klien atau mendapatkan imbalan.
Konselor juga harus menjaga sikapnya dalam konseling berkaitan hubungan dengan konselor lain. Konselor tidak melakukan sikap-sikap yang dapat menimbulkan konflik dengan konselor lain yang sebelumnya menangani klien. Sikap yang dapat memicu konflik seperti menjelekkan konselor lain secara langsung atau tidak langsung demi kepentingan pribadi konselor. Seperti upaya mendapatkan klien, upaya membuat klien kembali konseling kepada dirinya dibanding kepada konselor lain yang sebelumnya menangani klien.
Pengalaman klien yang pernah melakukan konseling sebelumnya bisa menimbulkan kebingungan dan konflik. Kebingungan dan konflik dapat muncul dikarenakan perbedaan penanganan yang ada atau perbedaan konselor yang menangani. Oleh karena itu, penting bagi konselor untuk mendiskusikan dengan pihak lain yang mewakili klien dalam konseling. Dengan mendiskusikan dengan pihak lain, dapat memahami keadaan konseling yang sebelumnya dialami klien, sehingga dapat melakukan penanganan yang tepat.
Konselor sebaiknya mengkomunikasikan dengan psikolog yang sebelumnya menangani. Berkomunikasi dengan psiklog yang sebelumnya menangani dapat meningkatkan pemahaman konselor mengenai kondisi klien dan apa saja penanganan yang telah klien terima. Pemahaman yang baik mengenai kondisi klien dapat membantu konselor melakukan follow up terhadap penanganan klien. Sehingga konselor dapat menentukan langkah apa yang tepat yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan atau yang harus dikembangkan dalam penanganan klien demi kesejahteraan klien.



Praktek dari pasal 76 KODE ETIK PSIKOLOGI INDONESIA.

Pasal 76 tersebut sangat erat dengan proses referral dalam konseling. Referral merupakan perujukan pasien kepada konselor lain yang dirasa lebih kompeten dalam menangani klien. Proses referral dapat dilakukan apabila konselor yang sebelumnya menangani klien, merasa bahwa tidak mampu memberikan pelayanan yang diperlukan klien. Ketidak mampuan tersebut bisa disebabkan oleh berbagai penyebab yang ada. Seperti, keprihatinan klien di luar kompetensi konselor, kepribadian yg berbeda sehingg akan mempengaruhi proses konseling, klien teman dekat atau saudara, ketika klien enggan mendiskusikan masalahnya karena berbagai alasan, atau jika dirasa hubungannya dg klien tidak efektif.
Bagi konselor yang menjadi tujuan rujukan (menerima pasien) atau menawarkan jasanya,  harus memperhatikan pasal 76 kode etik psikologi Indonesia. Sehingga dalam penanganan klien, konselor dapat melakukan sikap yang tepat yang mementingkan kepentingan kesejahteraan klien, dan dapat melindungi konselor dalam bertindak.


 

Penulisan artikel ini, berdasarkan pemahaman pribadi penulis dalam pemaknaan pasal 76 kode etik psikologi Indonesia. Tidak ada kepentingan pribadi dalam penulisannya. Apabila terdapat pihak-pihak yang merasa isi artikel ini merusak pemahaman pasal 76 kode etik psikologi Indonesia, silahkan hubungi admin dan penulis di errizqie@gmail.com untuk memperbaiki isi artikel ini.

Baca artikel lain seputar materi kuliah Psikologi di halaman Materi Kuliah Psikologi

Hipotesis Penelitian Eksperimen

Hipotesis Penelitian Eksperimen

Agar penelitian dapat terarah, dirumuskan pendugaan terlebih dahulu terhadap penyebab terjadinya masalah tersebut (hipotesis). Hipotesis terdiri dari dua kata, yakni hipo (yang berarti keraguan), dan tesis (yang berarti kebenaran). Jadi hipotesis berarti kebenaran yang masih diragukan. Menurut Soemadi Suryabrata, hipotesis penelitian adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang kebenarannya masih harus diuji secara empiris. Hipotesis sendiri merupakan rangkuman dari kesimpulan-kesimpulan teoritis dari penelaahan pustaka. Yang kemudian dijadikan jawaban masalah penelitian yang secara teoritis dianggap paling mungkin.

Perumusan hipotesis hendaknya dinyatakan dalam kalimat deklaratif yang secara jelas dan padat memuat pertautan antara dua variabel atau lebih. Selain itu, hipotesis yang dirumuskan harus dapat diuji, sehingga memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan data guna menguji kebenaran hipotesis tersebut. Secara garis besar, hipotesis dibedakan menjadi dua, yakni hipotesis alternative dan hipotesis nol. 

Hipotesis alternative (Ha), hipotesis yang menyatakan adanya saling-hubungan antara dua variable atau lebih, atau menyatakan adanya perbedaan dalam hal tertentu pada kelompok-kelompok yang berbeda. Misalkan hipotesis yang berbunyi “Ada hubungan antara tingkat kecemasan dengan prestasi belajar siswa”

Hipotesis nol (H0), hipotesis yang menyatakan tidak adanya saling hubungan antara dua variable atau lebih, atau hipotesis yang menyatakan tidak adanya perbedaan antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya. Contoh hipotesis nol adalah “Tidak ada hubungan antara tingkat penghasilan orangtua dengan prestasi belajar anak.


Baca artikel lain seputar materi kuliah Psikologi di halaman Materi Kuliah Psikologi
  1. Fungsi Penelitian Eksperimen
  2. Hipotesis Penelitian Eksperimen
  3. Langkah-Langkah Penelitian Eksperimen di Psikologi...
  4. Pendekatan Penelitian Psikologi
  5. Macam Error Dalam eksperimen.
  6. Variabel Penelitian Eksperimen
  7. Ilusi Muller Lyer
  8. Pemecahan Masalah / Problem Solving

Langkah-Langkah Penelitian Eksperimen di Psikologi

Langkah-Langkah Penelitian Eksperimen di Psikologi

All pictures are the property&copyright of their respective owner(s)
Menurut Sukardi (2003), pada umumnya penelitian eksperirnental dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut, yaitu :

(1) Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan. Penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi.
.,;
(2) Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
            Dalam membuat masalah penelitian ada tiga syarat yang harus dipenuhi yaitu harus menyatakan hubungan antara dua atau lebih variabel, dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang jelas dan tidak ambigu, dan harus memungkinkannya dilakukan pengukuran secara empiris (Kerlinger & Lee, 2000).

(3) Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah. 

(4) Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan:
a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses eksperimen.
b) Menentukan cara mengontrol
c) Memilih rancangan penelitian yang tepat;
d) Menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian;
e) Membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen;
f) Membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan;
g) Mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.

(5) Melaksanakan eksperimen.

(6) Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.

(7) Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah ditentukan. 

(8) Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan tahap signifikasi hasilnya.

(9) Menginterpretasikan hasil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan.


Baca artikel lain seputar materi kuliah Psikologi di halaman Materi Kuliah Psikologi

Baca juga, artikel terkait :



Pendekatan Penelitian Psikologi

Pendekatan Penelitian


Terdapat dua macam pendekatan dalam penelitian, yaitu : pendekatan kualitatif dan kuantitatif.

Pendekatan Kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan metodelogi untuk menyelidiki fenomena sosial dan masalah manusia. Melalui pendekatan ini peneliti membuat gambaran secara jelas, meneliti kata-kata, membuat laporan terperinci dari responden, dan melakukan studi pada keadaan yang alamiah. Pada pendekatan kualitatif menghasilkan data deskrisi yang berupa tulisan maupun lisan dari orang yang diamati. Penelitian kualitatif bersifat alamiah dan berupa penelitian. Sehingga peneliti menjadi intrumen kunci. Maka dari itu peneliti harus menguasai teori dan memiliki wawasan yang luas untuk bertanya, menganalisis dan mengkontruksi objek yang diteliti menjadi lebih jelas. Penelitian dengan pendekatan ini lebih menekankan pada nilai dan terikat makna. Pendekatan ini digunakan untuk meneliti masalah yang belum jelas untuk mengetahui makna tersembunyi, interaksi sosial, dan pengembangan teori untuk meneliti kebenaran data dan mengetahui sejarah perkembangannya.

Pendekatan Kuantitatif menekankan pengujian teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik. Realita bersifat objektif dan berdimensi tunggal. Menilai data secara objektif karena tidak boleh terpengaruh oleh keyakinan atau pemahaman pribadi peneliti (value free). Peneliti yang mengggunakan pendekatan kuantitatif bersifat independen terhadap fakta yang diteliti. Pendekatan kuantitatif menggunakan struktur teori.  Dan struktur teori yang digunakan untuk membangun satu atau lebih hipotesis.

Baca artikel lain seputar materi kuliah Psikologi di halaman Materi Kuliah Psikologi

Baca juga artikel terkait :
  1. Fungsi Penelitian Eksperimen
  2. Hipotesis Penelitian Eksperimen
  3. Langkah-Langkah Penelitian Eksperimen di Psikologi...
  4. Pendekatan Penelitian Psikologi
  5. Macam Error Dalam eksperimen.
  6. Variabel Penelitian Eksperimen
  7. Ilusi Muller Lyer
  8. Pemecahan Masalah / Problem Solving

Fungsi Penelitian Eksperimen

Fungsi Penelitian Eksperimen


Eksperimen adalah salah satu alat ilmu psikologi untuk mendapatkan informasi secara objektif dan sistematis. Eksperimen sendiri merupakan sebuah proses yang dilakukan untuk menunjukkan bahwa beberapa jenis peristiwa dapat diprediksi pada situasi spesifik tertentu. (Myers & Hansen, 2002).
Penelitian eksperimen digunakan para psikolog untuk membandingkan efek variasi variabel bebas terhadap variabel tergantung melalui manipulasi atau pengendalian variabel bebas tersebut. (Azwar,1998)


Baca artikel lain seputar materi kuliah Psikologi di halaman Materi Kuliah Psikologi

Baca juga artikel terkait :

Fungsi Kelompok: Peran, Status, Norma-norma, dan Kohesivitas


Fungsi Kelompok: Peran, Status, Norma-norma, dan Kohesivitas

Peran
Peran membantu mengklarifikasikan tanggung jawab dan kewajiban orang-orang yang menjadi bagian kelompok. Selain itu, peran memberikan sebuah cara penting untuk membentuk perilaku dan pikiran para anggotanya.

Tetapi, peran juga memiliki sisi negatif. Anggota kelompok kadang-kadang mengalami konflik peran – stres yang berakar pada kenyataan bahwa dua peran (atau lebih) yang dimainkannya tidak kompatibel. Sebuah contoh yang sangat umum untuk itu adalah tekanan yang dialami oleh ibu dan bapak baru, yang tibatiba saja harus menghadapi kewajiban yang terkait dengan sebuah peran– yaitu menjadi orangtua – yang tidak konsisten dengan kewajiban yang terkait dengan peran mahasiswa atau pegawai.


Status: Prestise dari Berbagai Peran
Anda tahu bahwa status – posisi atau jenjang sosial seseorang di dalam sebuah kelompok – dianggap sebagai masalah serius oleh banyak orang. Di dalam kasus apapun, status adalah salah satu faktor penting di dalam fungsi kelompok. Peran atau posisi yang berbeda di kelompok berhubungan dengan level status yang berbeda, dan orang seringkali sangat sensitif terhadap fakta ini.

Norma: Aturan Main.
Aturan di dalam kelompok yang menunjukkan bagaimana anggotanya seharusnya (atau seharusnya tidak) berperilaku Norma memberitahukan tentang cara untuk berperilaku (norma preskriptif) atau untuk tidak berperilaku (norma proskriptif) di dalam berbagai situasi.

Kohesivitas: Lem Perekat.
Semua kekuatan (faktor) yang menyebabkan Anggota kelompok tetap bertahan di dalam kelompok. Cota dan para koleganya (1995) menyatakan bahwa kohesivitas melibatkan dua dimensi primer: tugas-sosial dan individual-kelompok. Dimensi tugas-sosia  terkait dengan sejauh mana individu tertarik pada tujuan kelompok (tugas) atau hubungan sosial yang terdapat di dalamnya (sosial). Dimensi individualkelompok berhubungan dengan sejauh mana para anggota committed terhadap kelompoknya atau terhadap anggota-anggota lainnya. Sebagai contoh, kohesivitas mungkin berhubungan dengan status (pangkat). Orang-orang yang berpangkat lebih tinggi memiliki kohesivitas lebih tinggi dibanding mereka yang berpangkat lebih rendah. Di dalam tim olahraga, peran individual masing-masing pemain mungkin lebih penting dalam menentukan kohesivitas.

Faktor-faktor tambahan yang mempengaruhi kohesivitas antara lain: (1) besarnya usaha yang dibutuhkan untuk dapat menjadi anggota kelompok – semakin besar biaya yang dibutuhkan untuk bergabung, semakin tinggi ketertarikan orang terhadapnya (lihat diskusi kami tentang teori disonansi di Bab 4); (2) ancaman dari luar atau persaingan keras (Sherif dan kawan-kawan, 1961); dan (3) ukuran – kelompok-kelompok kecil cenderung lebih kohesif dibanding kelompok-kelompok besar.


Baca artikel lain seputar materi kuliah Psikologi di halaman Materi Kuliah Psikologi

 

Pembentukan Kelompok: Mengapa Orang Bergabung dengan Kelompok ?


Pembentukan Kelompok: Mengapa Orang Bergabung dengan Kelompok?

 
Para ahli psikologi sosial yang telah mengkaji isu ini sampai pada kesimpulan bahwa orang-orang bergabung dengan berbagai kelompok sosial karena beberapa alasan yang berbeda (Paulus, 198). Pertama, kelompok membantu kita dalam memuaskan beberapa kebutuhan psikologik maupun kebutuhan sosial penting kita, seperti kebutuhan untuk memberi dan menerima perhatian, kebutuhan untuk memberi dan menerima afeksi, atau kebutuhan untuk mendapatkan rasa memiliki. Kebutuhan-kebutuhan ini memang subtil, tetapi sangat riil.

Kedua, kelompok membantu kita mencapai tujuan-tujuan yang tidak dapat kita capai secara individual. Dengan bekerja bersama orang lain, kita seringkali dapat menyelesaikan pekerjaan yang tidak dapat kita lakukan sendirian. Ketiga, keanggotaan di kelompok seringkali memberikan pengetahuan dan informasi yang tidak akan kita dapat jika kita tidak menjadi anggotanya. Keempat, kelompok membantu memenuhi kebutuhan kita akan rasa aman. Di banyak kasus, keamanan terletak di dalam jumlah. Dengan menjadi bagian berbagai kelompok, kita memperoleh perlindungan dari musuh-musuh yang sama.

Terakhir, keanggotaan kelompok juga membantu pembentukan identitas sosial yang positif – yang menjadi bagian konsep-diri kita (lihat Bab 5). Semakin banyak jumlah kelompok restriktif dan prestisius yang mengakui keberadaan seseorang, semakin terangkat pula konsep-dirinya.

Baca artikel lain seputar materi kuliah Psikologi di halaman Materi Kuliah Psikologi
 


Pengertian Kelompok

 
Pengertian Kelompok
Homans (1950) : kelompok adalah sejumlah individu berkomunikasi satu dengan yang lain dalam jangka waktu tertentu yang jumlahnya tidak terlalu banyak, sehingga tiap orang dapat berkomunikasi dengan semua anggota secara langsung. b) Bonner (1959) : kelompok adalah sejumlah individu yang berinteraksi dengan individu yang lain. c) Stogdill (1959) : satu sistem interaksi terbuka dimana pola interaksi tersebut ditentukan oleh struktur sistem tersebut.

Menurut para ahli psikologi sosial, kelompok didefinisikan sebagai dua orang atau lebih yang saling berinteraksi, memiliki tujuan-tujuan yang sama, memiliki hubungan yang stabil, dan dalam hal-hal tertentu saling-tergantung satu sama lain, dan memiliki persepsi bahwa mereka adalah bagian dari kelompok yang sama (Paulus, 1989).


Baca artikel lain seputar materi kuliah Psikologi di halaman Materi Kuliah Psikologi

Macam Error Dalam eksperimen.


Macam-Macam Error Dalam eksperimen.

Maturasi
Merupakan proses pada subjek eksperimen yang terjadi seiring waktu berjalannya waktu. Ketika waktu pelaksanaan eksperimen cukup lama, subjek akan mengalami perubahan performa baik ke arah positif maupun negative. Misal dikarenakan lelah, bosan maupun karena bertambahnya usia, performa subjek menjadi berubah.

Histori
Merupakan kejadian khusus di luar perlakuan eksperimen yang terjadi di antara masa pengukuran pertama dan kedua yang dialami subjek dan ikut mempengaruhi hasil eksperimen. Kejadian ini ikut mengubah keadaan variabel dependen sehingga ketika diadakan pengukuran ke dua terlihat adanya perbedaan di antara kelompok-kelompok eksperimen, yang dapat menimbulkan kesimpulan yang salah mengenai efek sebenarnya dari variabel independen. Kejadian khusus tersebut akan sangat terasa akibatnya saat kejadian tersebut hanya dialami sebagian subjek sedang yang lainnya tidak.

Testing
Merupakan efek pengukuran yang dikenakan pertama kali (pretest) terhadap posttest. Jika pretest ternyata menjadi semacam latihan bagi subjek, maka bisa jadi peningkatan skor subjek pada posttest bukan semata-mata disebabkan adanya perlakuan eksperimen.

Mortalitas
Adalah hilangnya subjek tertentu dari kelompok eksperimen atau kelompok control yang bisa merubah rata-rata skor pada variabel dependen setelah perlakuan. Mortalitas akan lebih nyata kalau yang hilang adalah subjek yang semula skornya sangat tinggi atau sangat rendah.

Instrumentasi
Terjadi perubahan pada alat ukur atau pada proses pengukuran antara pengukuran yang satu dengan yang lain selagi dalam pelaksanaan eksperimen akan dapat menimbulkan pengaruh pada variabel dependen selain yang diakibatkan oleh efek perlakuan. Begitu juga apabila terjadi perubahan kondisi pelaksana pengukuran semisal ketidakkonsistenan, kelelahan, pergantian pelaksana, juga dapat mengurangi keyakinan akan besarnya efek perlakuan.

Regresi Statistik
Terjadi apabila subjek eksperimen diambil dari mereka yang memiliki skor yang ekstrim atau yang keadaannya berada pada dua kutub yang sangat bertentangan. Apabila hal itu terjadi maka meskipun tanpa adanya perlakuan, pengukuran pada variabel dependen akan tetap menghasilkan skor-skor yang menuju kea rah rata-rata dan mudah disalahtafsirkan sebagai akibat perilaku eksperimen.

Seleksi
Dalam sebuah eksperimen, boleh jadi kelompok pembanding yang digunakan dalam eksperimen terpilih sedemikian rupa sehingga perbedaan yang terukur setelah perlakuan diberikan sebenarnya bukan perbedaan sebagai efek eksperimen melainkan perbedaan yang sebelumnya memang sudah ada.

Interaksi berbagai Faktor
Paduan antara dua factor atau lebih menyebabkan kesimpulan yang salah mengenai efek perlakuan yang sebenarnya. Dapat berupa interaksi antar factor seleksi dan maturasi, interaksi factor seleksi dan histori, dan sebagainya.

Baca artikel lain seputar materi kuliah Psikologi di halaman Materi Kuliah Psikologi

Baca juga artikel terkait :

Variabel Penelitian Eksperimen

Variabel Penelitian Eksperimen
 
Menurut fungsinya di dalam penelitian, ada beberapa jenis variabel antara lain:

Variabel Independen
Variabel independen (bebas) adalah kondisi-kondisi atau karakteristik-karakteristik yang oleh peneliti dimanipulasi dalam rangka untuk menerangkan hubungannya dengan fenomena yang diobservasi. Fungsi variabel ini sering disebut variabel pengaruh sebab berfungsi mempengaruhi variabel lain. Jadi, secara bebas berpengaruh terhadap variabel lain. 

Variabel Dependen
Variabel dependen (tergantung) adalah variabel penelitian yang diukur untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel lain. Dalam mengklasifikasikan variabel menurut peranannya dalam penelitian, biasanya peneliti mulai dengan mengidentifikasi variabel dependen karena variabel inilah yang menjadi pusat persoalan. Misalnya akan meneliti tentang prestasi belajar, maka dipikirkanlah variabel apa yang memungkinkan menjadi faktor prestasi belajar, contoh metode pembelajaran. Di sini metode pembelajaran berperan sebagai variabel independen dan prestasi belajar sebagai variabel dependen.

Intervening variable
Menurut Tuckman (dalam Azwar, 1998), Intervening variable adalah suatu faktor yang secara teoritik berpengaruh terhadap fenomena yang diamati. Intervening variable atau variabel mediasi dipengaruhi variabel independen dan mempengaruhi variabel dependen. Variabel ini biasanya nilainya secara satuan relatif tidak dapat diukur, dilihat maupun dimanipulasi secara pasti sehingga efeknya terhadap fenomena yang bersangkutan harus disimpulkan dari efek variabel bebas dan variabel moderator. Contoh Gaya kepemimpinan sebagai variabel independen mempengaruhi variabel kepuasan kerja. Dan kepuasan kerja yang menjadi intervening variable mempengaruhi variabel dependennya yakni tingkat kedisiplinan karyawan.

Variabel Moderator
Variabel moderator merupakan variabel bebas tapi bukan variabel utama penelitian yang diperhitungkan pengaruhnya terhadap variabel dependen. Misal disamping metode pembelajaran masih banyak variabel yang dapat mempengaruhi prestasi belajar, jika nantinya peneliti juga memperhitungkan pengaruh jenis kelamin itu terhadap prestasi belajar walau tidak diutamakan, maka dalam contoh ini jenis kelamin sebagai variabel moderator. Variabel ini juga dibiarkan bervariasi agar pengaruhnya terhadap variabel dependen dapat diamati penarikan kesimpulan mengenai hubungan variabel independen dan dependen dengan cermat. Karena asumsinya  variasi jenis kelamin pria dan wanita masing-masing memiliki efek berbeda terhadap prestasi belajar.

Variabel Kendali
Dalam penelitian, variabel tergantung bisa saja dipengaruhi oleh banyak variabel bebas. Namun tidak semuanya variabel bebas diperlukan dan diperhatikan oleh peneliti. Variabel bebas lain yang peranannya dirasa cukup signifikan tidak bisa diabaikan begitu saja. Sehingga perlu adanya kendali agar efeknya terhadap variabel tergantung dapat dijaga dan tidak mencemari hasil penelitian. Variabel ini variasinya dibatasi. Misal pada hipotesis yang berbunyi “Model pembelajaran ceramah akan menurunkan minat belajar pada siswa tingkat TK,” tingkat pendidikan di sini berperan sebagai variabel kendali. Tingkat pendidikan variasinya dibatasi (hanya pada tingkat taman kanak-kanak) sehingga pengaruhnya terhadap minat belajar dapat ditiadakan.

Variabel Rambang
Variabel yang fungsinya dapat diabaikan atau pengaruhnya hampir tidak diperhatikan terhadap variabel bebas maupun variabel tergantung.

Baca artikel lain seputar materi kuliah Psikologi di halaman Materi Kuliah Psikologi

Baca juga artikel terkait :
  1. Fungsi Penelitian Eksperimen
  2. Hipotesis Penelitian Eksperimen
  3. Langkah-Langkah Penelitian Eksperimen di Psikologi...
  4. Pendekatan Penelitian Psikologi
  5. Macam Error Dalam eksperimen.
  6. Variabel Penelitian Eksperimen
  7. Ilusi Muller Lyer
  8. Pemecahan Masalah / Problem Solving